agenliga
/ Berita Nasional / Prostitusi Online di Mata Penulis “Jakarta Undercover”

Prostitusi Online di Mata Penulis “Jakarta Undercover”

Dodox Coolz on April 16, 2015 - 3:16 pm in Berita Nasional, News Artikel ini dibaca 29987 Kali
Prostitusi Online di Mata Penulis “Jakarta Undercover”
Rate this post

Hotabis.com – Prostitusi online atau prostitusi digital menjadi sorotan setelah kasus kematian seorang penyedia jasa prostitusi online Deudeuh Alfi Sahrin yang dibunuh oleh pelanggannya sendiri.

Ternyata, praktik esek-esek tersebut telah berkembang lebih maju dengan bantuan teknologi. Kalau dulu mengenal ‘prostitusi tempat’, maka kini dunia maya-lah yang menjadi ‘tempatnya’.

Moammar Emka, penulis buku ‘Jakarta Undercover’ yang mengupas tentang kehidupan malam Jakarta ini berpendapat, para pekerja seks komersial (PSK) kini mencari celah karena prostitusi banyak dianggap ilegal. Setelah majunya era digital, maka praktik prostitusi pun menyesuaikan diri.

“Itu kemudian menjadi salah satu cara orang membuka lahan di sana,” kata Moammar ketika dihubungi, Kamis (16/4/2015).

Moammar mengatakan, faktor kedua yakni karena banyak PSK yang kehilangan tempat. Lokalisasi, “dibumihanguskan” dan dilarang atau ditutup. Akhirnya, para PSK ini memulai praktik model baru dengan bantuan teknologi tanpa mesti hadir atau mangkal di tempat tertentu.

“PSK makin sempit ruang geraknya, dia enggak punya celah lagi karena dulunya lokalisasi boleh, tapi sekarang banyak yang ditutup,” ujar Moammar.

Faktor ketiga yakni perkembangan media sosial yang begitu pesat. Media sosial, lanjut dia, menjadi wadah tanpa batas bagi siapa pun. Ibaratnya menjadi tempat pertemuan orang dari belahan mana pun, seperti sebuah terminal dan begitu bebas. Ini juga yang kemudian mengubah gaya komunikasi masyarakat.

“Itu yang kemudian dimanfaatkan oleh mucikari, agen, atau PSK personal untuk buka lahan di situ,” ujar Moammar.

Kasus kematian yang menjerat seorang penyedia jasa seksual seperti Alfi kemarin, lanjut dia, adalah buktinya. Bagaimana seorang penyedia jasa seks dengan mudah ‘men-display-kan’ dirinya di media sosial.

“Dan ternyata iklannya dia di sana, banyak di makan orang dan dilihat. Terjadilah transaksi,” ujar Moammar.

Praktik prostitusi digital, menurut dia, tidak hanya personal. Mucikari yang membawahi beberapa PSK pun kini ada juga yang hijrah ke dunia maya. Hal semacam ini, kata dia, sudah berlangsung lama. Namun, kasus pembunuhan Alfi kemudian membuat kegiatan esek-esek di jagat maya itu kembali jadi sorotan.

“Semakin ke sini itu menyebutnya prostitusi digital karena konteks dan variatifnya jauh lebih maju, tidak hanya teks atau foto lagi, tapi juga video,” ujar Moammar.

Tidak aman

Moammar menilai, prostitusi digital lebih berbahaya ketimbang gaya prostitusi konvensional dulu. “Keamanan fisiknya tidak ada yang bisa menjamin. Jika terjadi kekerasan seksual gimana? kalau terlibat pembunuhan kan repot,” ujar dia.

Selain itu, PSK yang menjajakan diri secara personal seperti itu dipertanyakan apakah melalui prosedur pemeriksaan kesehatannya. Apakah PSK tersebut mengontrol kesehatannya, minimal 2 bulan sekali. “Sementara kalau di lokalisasi itu ada pemeriksaan kesehatannya,” kata dia.

Sulit diberantas

Kegiatan esek-esek menjadi sulit diberantas apalagi ketika wadahnya melalui dunia maya. “Susah, ini klasik. Tapi kita bisa meminimalisir kalau kominfo bisa blok situsnya. Ya paling tidak orang tidak segampang itu membuka situs porno,” ujar dia.

Moammar menyatakan, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberi bibit baik bagi generasi muda. Misalnya, melalui pendidikan seks yang baik. “Kemudian peran orangtua dalam keluarga dan bagaimana cara berinternet yang sehat,” jelasnya.

0 POST COMMENT
Rate this article
Prostitusi Online di Mata Penulis “Jakarta Undercover”
Rate this post

Send Us A Message Here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: