agenliga
/ Berita Nasional / Rela Jadi PSK demi Mencegah Penularan HIV/AIDS

Rela Jadi PSK demi Mencegah Penularan HIV/AIDS

lokalisasi-girun-di-kabupaten-malang
admin on April 18, 2013 - 5:56 pm in Berita Nasional, News Artikel ini dibaca 1099 Kali
Rate this post

Hotabis.com – Diana (nama samaran), seorang pekerja seks komersial (PSK) penghuni lokalisasi “Girun” di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengaku tetap menjadi PSK demi mencegah penularan virus HIV/AIDS ke rekannya sesama PSK dan konsumen.

Diana adalah salah satu dari 102 PSK yang menghuni lokalisasi “Girun” dengan fasilitas 22 wisma. Dia mengaku telah menghuni lokalisasi “Girun” sejak 2001 lalu.

“Saya di sini sejak 2001 lalu. Sejak awal, saya dipercaya untuk menyosialisasikan penggunaan kondom pada masing-masing WPS (wanita pekerja seks, red) dan para tamu yang datang,” katanya, Kamis (18/4/2013).

Setiap hari, Diana harus selalu mengingatkan tiap WPS agar tak lupa menyediakan kondom saat melayani tamunya, sekaligus menganjurkan setiap tamu memakai alat pengaman itu.

“Awalnya sosialisasi bagaimana pakai kondom itu sangat sulit. Banyak tamu yang datang jika diminta pakai kondom, mayoritas menolak. Katanya tidak enak jika pakai kondom,” katanya.

Namun, walaupun banyak WPS dan para tamu menolak pakai kondom, Diana tak putus asa untuk terus mengajak mereka menggunakan kondom. “Yang menyemangati saya terus sosialisasi, karena jika sudah terinfeksi HIV/AIDS, hancurlah masa depannya. Harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi,” katanya.

Setelah 5 tahun menyosialisasikan pakai kondom, perjuangan Diana tak sia-sia. “Alhamdulillah, sekarang hampir mayoritas WPS selalu pakai kondom. Para tamu juga mau jika diminta untuk pakai kondom,” katanya.

Selain itu, Diana juga mengaku berhasil membiasakan para WPS di lokalisasi “Girun” untuk memeriksakan kesehatan setiap bulan ke puskesmas di Kecamatan Gondanglegi.

“Sekarang semua WPS tak usah dipaksa untuk datang ke puskesmas. Para WPS sudah punya kesadaran sendiri. Awalnya memang tak terlalu peduli kesehatannya. Harus dipaksa untuk mendatangi puskesmas,” katanya.

Selain program harus periksa kesehatan ke puskesmas setiap hari Minggu, para WPS juga wajib melakukan senam pagi secara bersama-sama.

“Pokoknya setiap ada perkembangan baru soal HIV/AIDS, saya langsung menyosialisasikannya di masing-masing wisma yang ada,” kata Diana.

Ditanya apakah Diana masih kerasan menghuni lokalisasi “Girun”, ia mengaku sebenarnya tak ingin selamanya menjadi PSK atau WPS. “Tapi faktor ekonomi dan kebutuhan batin yang tak bisa tercukupi. Jika punya suami dan ekonomi cukup jelas, akan berhenti dari sini (lokalisasi, red),” katanya sembari meneteskan air mata.

Dia menilai tidak tepat langkah Pemerintah Kabupaten Malang yang mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menutup lokalisasi “Girun”.

“Saya tidak setuju jika ini ditutup, karena dampaknya akan lebih parah. WPS akan menjadi liar di jalan-jalan dan mengganggu suami orang,” katanya.

Jika pemerintah akan menutup lokalisasi “Girun”, kebutuhan ekonomi para WPS harus dipenuhi. Mereka diberikan pekerjaan lain dan terakhir dicarikan suami.

“Kalau begitu baru aman dan tak akan jadi WPS liar dan tak mengganggu suami orang,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) lokalisasi “Girun” yang enggan disebutkan namanya mengatakan, perjuangan Diana agar WPS dan para tamu memakai kondom sudah dilakukan sejak 10 tahun yang lalu.

“Sekarang sudah menyadari bahaya HIV/AIDS,” katanya.

Setiap ada penghuni baru, kata Diana, akan diperiksa kesehatan untuk antisipasi penyebaran HIV/AIDS. “Jika ada penghuni yang diketahui terinfeksi HIV/AIDS langsung dipulangkan sebelum menjalar. Kita betul-betul menjaga agar para penghuni dan para tamu tidak terinfeksi HIV/AIDS,” katanya.

0 POST COMMENT
Rate this article
Rate this post

Send Us A Message Here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: